Buya Dive The Radioman menyiarkan :
MAKHLUK APAKAH YANG LEBIH RENDAH DARI BINATANG..!?
Bismillaahirrohmanirrohiim ;
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh.
Sahabat kami yang dirahmati oleh Allah ta’ala...
Binatang itu tidak lalai dari tugasnya. Mereka selalu berzikir dan bertasbih. Binatang itu tidak mempunyai kewajiban hukum. Di riwayatkan dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah pernah melewati suatu kaum yang sedang berhenti sambil duduk di atas hewan kendaraannya. Mendapati hal itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,
“Kendarailah hewan-hewan itu dengan baik dan biarkanlah dalam keadaan sehat. Jangan jadikan mereka sebagai kursi tempat duduk kalian saat berbicara di jalan maupun di pasar. Bisa saja hewan yang dikendarai itu lebih baik dari yang mengendarainya, dan lebih banyak dzikirnya kepada Allah dibandingkan yang mengendarainya itu.” (HR. Imam Ahmad).
Sedangkan manusia itu, meskipun mereka berakal dan diberikan beban hukum, tetapi mereka membinasakan dirinya sendiri bersama akalnya. Mereka berbuat berbagai cara untuk menyia-nyiakan kemampuan, serta menyia-nyiakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada mereka; seperti akal, pendengaran, penglihatan, hati, dan lidah. Akhirnya semua nikmat itu jadi bencana, dan tidak tercatat dalam lembaran amal kebaikan mereka.
Inilah makna perkataan Ibnul Qayyim, “Nikmat itu jika dianugerahkan kepada seseorang hamba, maka bagi hamba itu nikmat bisa menjadi salah satu dari dua hal ini, bisa menjadi anugerah dan bisa pula menjadi bencana. Jika nikmat tersebut digunakan oleh si hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, hal itu menjadi anugerah dari Allah kepada hamba-Nya (artinya nikmat yang gratis). Jika ia gunakan bukan dalam ketaatan kepada Allah ta'ala, hal itu akan menjadi bencana dari Allah ta'ala kepadanya, dengan membiarkannya dalam kalalaian. Hingga ketika ia sudah benar-benar binasa, Allah ta'ala pun mematikannya.”
Maka dari itu, lihatlah saudaraku, bagaimana seseorang jatuh dalam kebinasaan melalui jalan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya oleh Allah ta'ala. Sehingga, hewan mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah ta'ala dibandingkan orang yang lalai itu. Jadi, alangkah celakanya orang-orang yang lalai itu.
Antara Malaikat dan Binatang
Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dengan dibekali akal, tetapi tanpa syahwat. Sementara hewan diciptakan dengan dibekali syahwat, tetapi tanpa akal. Sedangkan manusia diciptakan dengan disertai syahwat dan akal sekaligus oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Maka dari itu, bila manusia menggunakan akalnya dan menyadari tujuan diciptakannya oleh Allah subhanahu wa ta'ala., niscaya ia akan menjadi makhluk yang lebih mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. dibandingkan malaikat. Malaikat itu tidak mempunyai syahwat sehingga mereka tidak makan, tidak minum, tidak menikah, dan seterusnya.
Manusia mencapai derajat ketaatan karena kesungguhannya mengalahkan sisi syahwat dalam dirinya. Berbeda dengan malaikat, mereka ditakdirkan untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Malaikat itu seperti yang dideskripsikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat berikut ini. “…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka...” (Qs. at-Tahriim {66}: 6).
Orang-orang yang saleh dari kalangan manusia itu lebih baik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala dibandingkan malaikat. Hal ini hanya bisa dicapai dengan berusaha keras dan bersabar karena ia bukanlah sosok yang ditakdirkan seperti malaikat. Bila seseorang mengikuti hawa nafsunya dan menuruti jalan hewan, niscaya ia akan menjadi lebih hina dari hewan di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “…Bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs. al-A’raaf {7}: 179).
Hewan itu dimaklumi karena syahwatnya mengalahkan dirinya, mengingat ia tidak berakal dan ini memang tabiatnya. Kemudian, apa alasan bagi orang yang berakal jika ia tidak mendengarkan panggilan Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak mengikuti petunjuk-Nya?
Oleh karena itu, orang kafir di akhirat mengharap-harap agar mereka dihisab seperti dihisabnya hewan. Namun, bagaimana mungkin hal ini bisa dilakukan? Ia sudah berbuat salah dan bermaksiat, sedangkan hewan itu tidak pernah bermaksiat, malah hewan itu selalu bertasbih dan memuji Rabb-nya serta taat kepada-Nya? Sebagaimana firman-Nya,
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Israa’ {17}: 44).
Tidak ada makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang tidak bertasbih kepada-Nya, seperti langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan lainnya, kecuali syaitan dan anak-anak Adam yang celaka. Maka, hewan dan binatang akan diperhitungkan perbuatan mereka pada hari kiamat sehingga hewan yang pernah menanduk hewan lain pada saat itu akan dibalas. Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan semua makhluk itu menjadi debu. Maka, orang yang lalai ketika melihat hal itu ia mengharapkan seandainya ia adalah sapi, burung, atau anjing saja pada saat di dunia. Sehingga ia menjadi debu dan tidak dimasukkan ke neraka Jahanam.
“…Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (Qs. an-Naba’ {78}: 40).
Lihatlah bagaimana angan-angan terbesarnya pada hari kiamat adalah ia menjadi keledai atau anjing saja ketika hidup di dunia. Namun angan-angan itu tidak mungkin terwujud. Hewan lebih tinggi derajatnya dan lebih mulia kedudukannya di sisi Allah. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Bahkan mereka lebih sesat lagi.”
Mahabenar Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi. Mereka itu turun ke derajat yang rendah ini tidak lain karena kelalaian yang membuat hewan ternak mengalahkan mereka dalam masalah nilai dan kedudukan di sisi-Mu. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan alasan, “Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ini adalah rahasia kebinasaan mereka bersama orang-orang yang celaka. Mereka itu tidak menggunakan indera mereka dan nikmat yang diberikan Allah ta'ala kepada mereka, seperti akal, usia, kekuatan, dan ilmu pengetahuan, untuk mengerjakan apa yang diridhai Allah, Rabb alam semesta.
Sayyid Quthb memberikan komentar yang bagus tentang makna ini ketika ia menafsirkan ayat tersebut. Ia berkata, “Orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Allah (dalam semesta dan kehidupan di sekelilingnya serta yang melalaikan kejadian dan perubahan yang ia alami sehingga mereka tidak melihat tangan kekuasaan Allah di situ), mereka itu seperti hewan bahkan lebih sesat lagi. Hewan ternak itu punya kesiapan fitrah yang menunjukkannya, sedangkan jin dan manusia itu diberikan bekal hati yang sadar, mata yang melihat, dan telinga yang mendengar. Mereka (orang-orang yang lalai) tidak membuka hati mereka, penglihatan mereka, dan pendengaran mereka untuk menangkap pemahaman. Mereka menemukan bahwa kehidupan mereka lalai dengan tidak ditangkapnya makna dan tujuannya oleh hatinya dan mata mereka juga tidak melihat pelajaran, berupa pelbagai nikmat yang diberikan kepada kesiapan fitrah mereka yang memberikan petunjuk.
Kemudian mereka yang menjadi penghuni neraka itu, terhadap mereka itu ditakdirkan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka difitrahkan dengan kesiapan fitrah mereka untuk bertindak seperti itu. Sehingga Allah ta'ala menjadikan aturan dalam membalas mereka adalah neraka. Mereka itu, sebagaimana dalam ilmu Allah yang qadim, menjadi bahan bakar neraka Jahanam semenjak dahulu.”
Ketahuilah bahwa kelalaian terhadap hal-hal yang membinasakan itu adalah awal penyebab kebinasaan, bahkan ia adalah sebab bagi kebiasaan di dunia dan akhirat, wallahu a’lam bish-showab.
L♥ve and respect;
Buya Dive dRadioman
Feel Free To Share ✔
MAKHLUK APAKAH YANG LEBIH RENDAH DARI BINATANG..!?
Bismillaahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh.
Sahabat kami yang dirahmati oleh Allah ta’ala...
Binatang itu tidak lalai dari tugasnya. Mereka selalu berzikir dan bertasbih. Binatang itu tidak mempunyai kewajiban hukum. Di riwayatkan dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah pernah melewati suatu kaum yang sedang berhenti sambil duduk di atas hewan kendaraannya. Mendapati hal itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,
“Kendarailah hewan-hewan itu dengan baik dan biarkanlah dalam keadaan sehat. Jangan jadikan mereka sebagai kursi tempat duduk kalian saat berbicara di jalan maupun di pasar. Bisa saja hewan yang dikendarai itu lebih baik dari yang mengendarainya, dan lebih banyak dzikirnya kepada Allah dibandingkan yang mengendarainya itu.” (HR. Imam Ahmad).
Sedangkan manusia itu, meskipun mereka berakal dan diberikan beban hukum, tetapi mereka membinasakan dirinya sendiri bersama akalnya. Mereka berbuat berbagai cara untuk menyia-nyiakan kemampuan, serta menyia-nyiakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada mereka; seperti akal, pendengaran, penglihatan, hati, dan lidah. Akhirnya semua nikmat itu jadi bencana, dan tidak tercatat dalam lembaran amal kebaikan mereka.
Inilah makna perkataan Ibnul Qayyim, “Nikmat itu jika dianugerahkan kepada seseorang hamba, maka bagi hamba itu nikmat bisa menjadi salah satu dari dua hal ini, bisa menjadi anugerah dan bisa pula menjadi bencana. Jika nikmat tersebut digunakan oleh si hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, hal itu menjadi anugerah dari Allah kepada hamba-Nya (artinya nikmat yang gratis). Jika ia gunakan bukan dalam ketaatan kepada Allah ta'ala, hal itu akan menjadi bencana dari Allah ta'ala kepadanya, dengan membiarkannya dalam kalalaian. Hingga ketika ia sudah benar-benar binasa, Allah ta'ala pun mematikannya.”
Maka dari itu, lihatlah saudaraku, bagaimana seseorang jatuh dalam kebinasaan melalui jalan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya oleh Allah ta'ala. Sehingga, hewan mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah ta'ala dibandingkan orang yang lalai itu. Jadi, alangkah celakanya orang-orang yang lalai itu.
Antara Malaikat dan Binatang
Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dengan dibekali akal, tetapi tanpa syahwat. Sementara hewan diciptakan dengan dibekali syahwat, tetapi tanpa akal. Sedangkan manusia diciptakan dengan disertai syahwat dan akal sekaligus oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Maka dari itu, bila manusia menggunakan akalnya dan menyadari tujuan diciptakannya oleh Allah subhanahu wa ta'ala., niscaya ia akan menjadi makhluk yang lebih mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. dibandingkan malaikat. Malaikat itu tidak mempunyai syahwat sehingga mereka tidak makan, tidak minum, tidak menikah, dan seterusnya.
Manusia mencapai derajat ketaatan karena kesungguhannya mengalahkan sisi syahwat dalam dirinya. Berbeda dengan malaikat, mereka ditakdirkan untuk selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Malaikat itu seperti yang dideskripsikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat berikut ini. “…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka...” (Qs. at-Tahriim {66}: 6).
Orang-orang yang saleh dari kalangan manusia itu lebih baik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala dibandingkan malaikat. Hal ini hanya bisa dicapai dengan berusaha keras dan bersabar karena ia bukanlah sosok yang ditakdirkan seperti malaikat. Bila seseorang mengikuti hawa nafsunya dan menuruti jalan hewan, niscaya ia akan menjadi lebih hina dari hewan di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “…Bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs. al-A’raaf {7}: 179).
Hewan itu dimaklumi karena syahwatnya mengalahkan dirinya, mengingat ia tidak berakal dan ini memang tabiatnya. Kemudian, apa alasan bagi orang yang berakal jika ia tidak mendengarkan panggilan Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak mengikuti petunjuk-Nya?
Oleh karena itu, orang kafir di akhirat mengharap-harap agar mereka dihisab seperti dihisabnya hewan. Namun, bagaimana mungkin hal ini bisa dilakukan? Ia sudah berbuat salah dan bermaksiat, sedangkan hewan itu tidak pernah bermaksiat, malah hewan itu selalu bertasbih dan memuji Rabb-nya serta taat kepada-Nya? Sebagaimana firman-Nya,
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Israa’ {17}: 44).
Tidak ada makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang tidak bertasbih kepada-Nya, seperti langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan lainnya, kecuali syaitan dan anak-anak Adam yang celaka. Maka, hewan dan binatang akan diperhitungkan perbuatan mereka pada hari kiamat sehingga hewan yang pernah menanduk hewan lain pada saat itu akan dibalas. Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan semua makhluk itu menjadi debu. Maka, orang yang lalai ketika melihat hal itu ia mengharapkan seandainya ia adalah sapi, burung, atau anjing saja pada saat di dunia. Sehingga ia menjadi debu dan tidak dimasukkan ke neraka Jahanam.
“…Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (Qs. an-Naba’ {78}: 40).
Lihatlah bagaimana angan-angan terbesarnya pada hari kiamat adalah ia menjadi keledai atau anjing saja ketika hidup di dunia. Namun angan-angan itu tidak mungkin terwujud. Hewan lebih tinggi derajatnya dan lebih mulia kedudukannya di sisi Allah. Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Bahkan mereka lebih sesat lagi.”
Mahabenar Engkau wahai Rabb kami dan Mahatinggi. Mereka itu turun ke derajat yang rendah ini tidak lain karena kelalaian yang membuat hewan ternak mengalahkan mereka dalam masalah nilai dan kedudukan di sisi-Mu. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan alasan, “Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ini adalah rahasia kebinasaan mereka bersama orang-orang yang celaka. Mereka itu tidak menggunakan indera mereka dan nikmat yang diberikan Allah ta'ala kepada mereka, seperti akal, usia, kekuatan, dan ilmu pengetahuan, untuk mengerjakan apa yang diridhai Allah, Rabb alam semesta.
Sayyid Quthb memberikan komentar yang bagus tentang makna ini ketika ia menafsirkan ayat tersebut. Ia berkata, “Orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Allah (dalam semesta dan kehidupan di sekelilingnya serta yang melalaikan kejadian dan perubahan yang ia alami sehingga mereka tidak melihat tangan kekuasaan Allah di situ), mereka itu seperti hewan bahkan lebih sesat lagi. Hewan ternak itu punya kesiapan fitrah yang menunjukkannya, sedangkan jin dan manusia itu diberikan bekal hati yang sadar, mata yang melihat, dan telinga yang mendengar. Mereka (orang-orang yang lalai) tidak membuka hati mereka, penglihatan mereka, dan pendengaran mereka untuk menangkap pemahaman. Mereka menemukan bahwa kehidupan mereka lalai dengan tidak ditangkapnya makna dan tujuannya oleh hatinya dan mata mereka juga tidak melihat pelajaran, berupa pelbagai nikmat yang diberikan kepada kesiapan fitrah mereka yang memberikan petunjuk.
Kemudian mereka yang menjadi penghuni neraka itu, terhadap mereka itu ditakdirkan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka difitrahkan dengan kesiapan fitrah mereka untuk bertindak seperti itu. Sehingga Allah ta'ala menjadikan aturan dalam membalas mereka adalah neraka. Mereka itu, sebagaimana dalam ilmu Allah yang qadim, menjadi bahan bakar neraka Jahanam semenjak dahulu.”
Ketahuilah bahwa kelalaian terhadap hal-hal yang membinasakan itu adalah awal penyebab kebinasaan, bahkan ia adalah sebab bagi kebiasaan di dunia dan akhirat, wallahu a’lam bish-showab.
L♥ve and respect;
Buya Dive dRadioman
Feel Free To Share ✔

Tidak ada komentar:
Posting Komentar