Jumat, 20 April 2012

ALI BIN ABI THALIB

Buya Dive The Radioman menyiarkan :

ALI BIN ABI THALIB



Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatulaahi wabarokaatuh


Sahabat Indonesian Broadcaster yang di sayang Allah ta’ala…

RAHASIA sosok yang satu ini adalah ia demikian mencintai Sang Maharahman, dan dicintai Sang Maharahman.

(Pujian ini yang tidak di ungkap dalam kata
Di sana, di depan pintu semua kemuliaan berjejer).

Lelaki ini adalah sosok pemberani yang demikian ahli dalam memutus kepala-kepala berhala dengan cara-cara Islami. Jika ia mengayunkan pedang, maka semuanya bergetar berguguran. Sebab di dalam kepala manusia-manusia kala itu ada paku-paku “Lata & ‘Uzza”.

Ia masuk Islam saat masih kanak-kanak, ikut terjun di perang Badr saat masih sangat remaja, menjadi imam saat sudah dewasa, dan di bunuh kala sudah tua. Maka keselamatan baginya saat dilahirkan, saat meninggal, begitu pula kala dibangkitkan untuk dihidupkan.

Ia adalah sosok yang memiliki kalimat-kalimat memikat dan ibarat-ibarat yang penuh ibroh, membawa kata-kata yang terang dan bersinar. Tidak seorang pun yang mencintainya kecuali ia seorang mukmin, dan tidaklah membencinya kecuali seorang munafiq. Tidaklah memberontak padanya kecuali orang yang melampaui batas, serta tidaklah sekali-kali mencercanya kecuali seorang durjana.

Ia penggal kepala Walid pada perang Badr. Ia rekahkan ubun-ubun ‘Amru pada saat perang Handaq. Ia bunuh Al-‘Ash bin Wail pada hari Furqon. Ia hancurkan panji-panji kebathilan pada saat perang Uhud, kemudian ia luluh lantakkan benteng musuh pada perang Khaibar.

Ali berada di antara orang yang menolak dan yang mengakuinya. ORANG-ORANG RAFIDHAH (salah satu kelompok dalam SYIAH) TERLALU BERLEBIHAN MENYIKAPI ALI, LANTAS MENGATAKAN SESUATU TENTANGNYA DENGAN CARA YANG BODOH. Padahal Allah ta’ala menjadikan Ali tidak butuh terhadap apa yang mereka katakan. Penyucian Allah ta’ala atas diri Ali, jauh lebih baik dari sikap mereka yang berlebihan.

Sedangkan ORANG YANG MENOLAK ALI MENISBATKAN KEJELEKAN-KEJELEKAN ATASNYA, LALU MENGUBURKAN SEMUA KEBAIKANNYA. Mereka tidak mempu lagi melihat sebagaimana adanya. Oleh sebab itulah Ahli Sunnah menolak apa yang dikatakan kalangan Rafidhah, dan memanjangkan tiang keadilan di depan mata orang-orang yang menyatakan penolakan kepada Ali. Sesungguhnya Ali dalam pandangan ahli hak, selalu bersinar bintangnya, dan selalu naik pamornya.

Ali di tusuk tombak pendek saat berada di mihrab. Maka ia pun bersujud dengan sujud sangat panjang kepada Allah ta’ala, dan ia tidak mengangkat kepalanya setelah itu untuk selamanya. Lidahnya fasih, semua yang ada padanya dalah hasan. Semoga kau selalu hidup wahai Abul Hasan!

Apa yang pantas kita katakan tentangnya? Ia adalah anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pedangnya selalu terhunus. Suami dari anak Rasulullah yang suci. Anak-anaknya adalah tuan anak-anak lainnya. Sedangkan pamannya adalah penghulu para syuhada’.

Ia telah meluluhkan ubun-ubun kaum musyrikin. Ia sobek kulit orang-orang Yahudi. Ia bungkam mulut-mulut para pembangkang. Dengan pedang, ia keluarkan penyakit kaum Khawarij. Ia hancur leburkan pecahan-pecahan fitnah dalam kekuatan jamaah, dan ia gabungkan pecahan umat yang terlanda fitnah. Ia sambung jembatan Dien, dan dihancurkannya tombak orang-orang yang membangkang.

Dalam dunia kepahlawanan, ia memiliki seni-seni sendiri. Umat memiliki hutang padanya. Ia di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan posisi Harun di sisi Musa alaihi salam. Ia memberikan seluruh semangatnya untuk Dien. Ia tidur di kasur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat akan hijrah. Barangsiapa yang mencintai Muhammad, maka ia akan mencintai Ali, dan barangsiapa yang mencintai Ali, sudah pasti ia mencintai Muhammad.

Baju besinya dihancurkan, dan dengan baju besi itu ia menikahi Fathimah. Pedangnya dihancurkan, maka pedangnya pun diganti dengan pedang Dzul Fiqar. Bajunya dicabik-cabik, maka digantilah ia dengan mahkota “Allah dan Rasul mencintainya.” Ia meminta syahadah (mati syahid) pada perang Badr, maka dikatakan padanya bahwa itu mungkin di capai di Uhud, kemudian diserukan padanya di Hunain. Maka ia pun menempuh semuanya. Mereka pun mengatakan bahwa mungkin ini bisa di capai di Khaibar, maka ia di sana. Lantas mereka berkata, “Ternyata janji itu masih lambat.” Maka Ali pun berkata, “Alangkah indahnya jika aku terbunuh di dalam masjid.”

Mereka membunuhnya, dan Allah ta’ala akan membunuh mereka. Tidakkah mereka menyanyakan padanya tentang ilmu? Kerena seungguhnya OBAT KEBODOHAN itu ADALAH BERTANYA.

Jika diibaratkan, maka kecerdikan Ali lebih cepat dari cahaya, dan lebih cerah dari sinar fajar. Ia seorang alim yang jika menyelam pada kedalaman ilmu, maka ia dengan mudah akan menghadirkannya, sebab ia adalah sosok yang khusus.

Ia jauhkan dirinya dari meminta dunia. Perabot rumahnya adalah tikar, bejana dari kulit, selimut dan mangkuk besar. Jiwanya demikian rindu pada surga, yang ia lakukan dengan bekal iman, hijrah, jihad dan syahadah.

(Napak tilas hidupnya laksana gemintang malam yang tampak
Yang dihiasi dienullah, etika, serta kemuliaan akhlak).

Ia tidak pernah melarikan diri dalam perang mana pun, dan tidaklah ia sama sekali menebaskan pedangnya pada seorang kafir kecuali pasti memenggal.

Manusia dalam memandangnya terbagi dua. Ada yang ekstrim, ada pula yang moderat. Ada yang memujinya hingga mengklaim bahwa ia memiliki sifat makshum. Ada juga yang membencinya meragukan ke-sahabat-nya. NAMUN IA BUKAN INI BUKAN PULA ITU!! Ia adalah anak paman Nabi yang ummi dan bersinar cemerlang. Ia adalah seorang alim mujtahid yang tercerahkan. Ia adalah Amirul Mukminin bagi kaum mukminin. Ia sangat pantas memiliki nilai-nilai keutamaan.

Ia adalah sahabat yang paling berani saat menghadapi musuh. Orang yang paling takut kepada Rabb-nya saat menangis. Ia adalah orang yang benar tatkala berbicara, dan orang paling ceria kala tertawa.

Di antara orang-orang yang paling pemberani dan menjadi kebanggaan semua, Ali adalah orangnya. Dari tanda kehinaan dunia adalah Ali tidak mencintainya. Di antara keterpujian mimbar adalah Ali salah satu singanya. Begitu pula di antara cirri khas kesyahidan adalah Ali pernah meminangnya.

Akan terasa sangat murah dunia bagi kita, jika kita mengingat Ali. Kita akan demikian rindu syahid jika kita mengingat Ali. Kebathilan akan marah tatkala kita mencintainya, dan kebenaran akan marah besar jika kita membuatnya marah.

Ali adalah sebuah kisah yang demikian indah. Ia adalah sesuatu yang lain. Jika ia bicara, maka ia adalah kalimat-kalimat yang menggebu dan benar. Jika ia mengayunkan senjatanya, maka pukulannya membunuh dan mematikan. Jika ia menangis, maka yang keluar adalah air mata yang hangat dan merefleksikan nasihat. Jika ia tertawa, maka tawanya adalah senyuman yang menarik sekali.

Ali adalah zahid tatkala hamparan harta terbentang. Ia demikian kokoh jika dihadapkan pada ujian-ujian. Ia adalah bukti keberanian jika pasukan telah hadir, dan ia adalah pionir kefasihan kala berada di tengah kumpulan orang-orang.

Ia adalah Ali pada peristiwa-peristiwa. Abul Hasan kala menghadapi ujian. Abu Turab kala berada dalam krisis. Aku mencintaimu wahai Ali, dan aku mencintai orang yang mencintaimu wahai Abul Hasan. Kecintaanku padamu begitu tinggi, sebagaimana kau inginkan cinta mencintaimu. Kau demikian memenuhi janji sebagaimana janji akan memenuhi janjinya. Kau adalah seorang yang jujur, sebagaimana kau ingin kejujuran itu. Namun aku mencintaimu wahai Ali, dan aku rasa cukup. Tidaklah cukup jika engkau berada dalam jiwaku.

Amin yaa Allah yaa Mujiibassailin…



Barakallahu fiekum
Buya Dive The Radioman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar