Selasa, 09 Agustus 2011

CINTA YANG TIADA PAMRIH

Uda Dive The Radioman menyiarkan :


CINTA TIADA PAMRIH
(Keselamatan Itu Milik Hamba yang Menghendakinya)



Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat kami yang dirahmati oleh Allah swt...

Sebelum ini saya membuat sebuah ‘status’ dengan narasi sebagai berikut :

Ketahuilah wahai sahabat...

Barasiapa yang bertekad menuju tempat 'perlindungan',
ia akan 'memastikan' diri menuju kesana dengan segenap kemampuan yang ada dan insyaAllah akan sampai ke ujung 'perlindungan'. Sesungguhnya ini berlaku bagi siapa saja yang menginginkannya."


Adapun maksud sebenarnya dari kalimat (khiasan) tersebut adalah mengajak kita untuk berbaik sangka kepada Allah, yakni Dzat Yang pasti baik dan benar dengan segala janji dan ketetapan-Nya.

Perlindungan, tiada lain adalah KESELAMATAN dunya wal akhirat. Hal ini tidak dapat kita ukur dengan sekadar menggunakan akal, tetapi juga disertai nurani atau inilah yang kita sebut KEIMANAN. Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan mengabulkan setiap pinta dan permohonan dari setiap hamba-Nya, dengan waktu yang paling baik menurut Allah. Bisa jadi disegerakan-Nya saat ini juga—esok—atau bahkan di akhirat nanti.

Jadi ketika pikiran kita di dunia menganggap bahwa pinta dan permohonan itu belum atau tidak dikabulkan-Nya, maka wallahi, singkirkanlah jauh-jauh persangkaan seperti itu, meski pengalaman pahit harus kita alami (dan) pahit itu sebenarnya menurut kata orang-orang yang mencintai dunia. Sedangkan kita tetap sami’na wa atho’na kepada Allah dan Rasul-Nya. Cukupkan diri dengan prinsip ini saja dan kita tetap bersabar.

Sungguh Allah ta’ala TIDAK AKAN PERNAH INGKAR terhadap janji-Nya, dan yakinlah bahwa keselamatan bagi orang-orang beriman adalah tiba dengan selamat di rumah kampung halaman abadi (akhirat) hingga bahagia selama-lamanya. Maka hendaknya bersabarlah, dan pegang kokoh prinsip ini lillaahi ta’ala.

Itulah sebabnya dikatakan, “Ia akan 'memastikan' diri menuju kesana dengan segenap kemampuan yang ada, dan insyaAllah akan sampai ke ujung 'perlindungan'.” Sebab sungguh bahwa dien Islam (Keselamatan) ini diperuntukkan bagi orang-orang yang cerdas lagi berpikir, sehingga insyaAllah mudah pula bagi mereka menerima kebenaran (al-Hidayah).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya." (QS. al-Mu'minuun 62).

Selebihnya, sebagaimana ayat Allah yang menyebutkan; "Katakanlah, 'Allah.' Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dengan kesesatannya." (QS. al-An'aam 91), lalu dikorelasikan dengan kalimat, ‘Sesungguhnya ini berlaku bagi siapa saja yang menginginkannya’ sebagaimana disebutkan di atas, maka pilihan selamat atau celaka itu berada pada posisi ‘nafsi’nafsi’ atau bergantung pada kehendaknya masing-masing.

Sementara tugas kita yang masih hidup dan memahami perkara ini dengan ilmu dan perbuatan nyata, HANYA-lah memberi contoh dan nasihat dengan cara yang baik dan benar. Bukan (langsung) meninggalkan mereka bersama kesesatannya—mencaci maki dan merasa lebih suci—atau tidak juga dengan memaksa mereka, apalagi dengan menggunakan kekerasan. 

Wallahua’lam bish-showab.



Untuk itu simaklah ayat-ayat Allah yang insyaAllah berkenaan dengan perkara ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran 159).

Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat 34).

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At-Taghaabun 12).

Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (QS. Ar-Ra’d 40).

Subhanallah, Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.



Barakallaahu fiekum
Wassalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh
Buya Dive The Radioman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar